Situs Toghu Widoropayung, Sejarah dan Adaptasinya

Oleh

Y. Setiyo Hadi*)


Widoropayung, nama sebuah desa di Kecamatan Besuki Kabupaten Situbondo, dapat dipastikan sebagai wilayah tua yang di masa kolonial Hindia-Belanda menjadi kota onderdistrik (setingkat Kecamatan). Hal ini dapat dilihat dari staatsblad tentang pemerintahan Regentschap dan Afdeling di Jawa dan Madura, yaitu: Staatsblad Van Nederlandsch Indie nomor 73 tahun 1874, bahwa Onderdistrik Widoropayung bagian dari Afdeling (Kabupaten) Besuki yang berada di Distrik (Kawedanan) Besuki.


Onderdistrik atau Kecamatan Widoropayung, pada masa kolonial Hindia Belanda sekitar tahun 1877 M, dipimpin oleh seorang asisten wedono yang disebut sebagai De Assistent Wedana Widarapajoeng District En Regentschap Besoeki yang diberitakan dalam koran Java Bude halaman 7 pada tanggal 10 Februari 1877 Masehi. Widoropayung dapat dikatakan merupakan desa tua yang pernah menjadi kota kecamatan (onderdistrik).


Tentu saja sebagai wilayah tua, Widoropayung, memiliki berbagai peninggalan bersejarah yang berasal dari masa lalu. Salah satu peninggalan bersejarah yang berada di pinggir jalan depan Kantor Pemerintah Desa Widoropayung yaitu: sekelompok deretan/blok batu yang berbahan breksi tertata secara alami. Salah satu batu terdapat guratan relief wajah yang kini tampak aus. Batu yang dimaksud berada di deretan paling selatan, berbentuk mirip kursi sofa. Sementara batu-batu lainnya masih tanpa goresan, kecuali sebuah fitur lubang batu dengan goresan di samping utara lubang tersebut.



Tampak relief wajah manusia yang kini sudah aus 


Foto: Irwan Kurniadi.



    Fitur lubang batu.


    Foto: Irwan Kurniadi.



Bebatuan lainnya yang menghadap ke arah barat.


Foto: Irwan Kurniadi.


Peninggalan tersebut telah dicatat di dalam catatan kolonial Hindia Belanda pada tahun 1904 masehi yang ditulis oleh J. Knebel seorang anggota dari Komisi kepurbakalaan di Hindia Belanda. Laporan itu terdapat dalam Rapporten Van de Commissie in Nederlandsch Indie voor Oudheidkundig Onderzoek op Java en Madura 1904. Artinya, sudah sejak 100 tahun lebih peninggalan bersejarah berbentuk deretan batu tertata rapi/bagus yang ada di Widoropayung sudah ada dan teridentifikasi.



Berdasarkan survei yang dilakukan oleh TCB-YMBS (Tim Cagar Budaya Yayasan Museum Balumbung Situbondo), kekunoan di lokasi tersebut oleh masyarakat disebut Toghu yang artinya tugu. Untuk mengidentifikasi secara administrasi, Irwan Kurniadi, Ketua TCB-YMBS menulis dengan penamaan Situs Toghu Widoropayung.  Peninggalan purbakala tersebut merupakan hasil budaya megalitik. Biasanya pada masa lalu dilakukan ritus-ritus di lokasi semacam  itu.  


Taman Purbakala Situs Toghu Widoropayung


Batu berelief wajah manusia, tampak selatan.

Foto: Irwan Kurniadi



Kepala Desa Widoropayung, Sualis atas nama pemerintah desa melakukan pemanfaatan situs tersebut dengan membikin pelataran di bagian lahan yang kosong,  termasuk area parkir. TCB- YMBS memberikan saran perihal material dan komposisi yang bersifat adaptif. Jangan sampai material yang dibangun mengganggu zona inti dan lanskap budayanya. Terkecuali untuk struktur tandon air yang sudah terlanjur berdiri tegak, tentu ke depan dikamuflase sedemikian rupa agar terlihat berkorelasi dengan kekunoan di situs tersebut.


Menurut Irwan, berdasarkan regulasi yang termaktub dalam UU RI Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, adaptasi untuk memenuhi kebutuhan masa kini dapat dilakukan dengan syarat tetap mempertahankan ciri asli dan/atau muka Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya; dan/atau ciri asli lanskap budaya dan/atau permukaan tanah Situs Cagar Budaya atau Kawasan Cagar Budaya sebelum dilakukan adaptasi tersebut.


Hal itu tentu dilakukan dengan mempertahankan nilai-nilai yang melekat pada Cagar Budaya, menambah fasilitas sesuai dengan kebutuhan, mengubah susunan ruang secara terbatas dan/atau mempertahankan gaya arsitektur, konstruksi asli, dan keharmonisan estetika lingkungan di sekitarnya.


Harapannya, setiap pembangunan dan penataan yang bersentuhan dengan Cagar Budaya  hendaknya memerhatikan rambu-rambunya agar upaya pelestarian Cagar Budaya tetap terjaga.(*)


Boemi Poeger, 21 November 2021


*) Pembina Yayasan bumi Puger Persada / Penerjemah Bahasa Belanda Sumber



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama