Menguak Misteri Candi Bang (Bagian I)

(Menelusuri Candi Bang berdasarkan Informasi dari berita Kolonial)

Oleh: Y. Setiyo Hadi  

[Boemi Poeger Persada - Bidang Literasi LESBUMI PC NU Jember]

Menguak Misteri Candi Bang (Bagian I)

Lokasi Candi Bang

Candi Bang berada di lingkungan Taman Nasional (TN) Baluran yang juga masuk dalam wilayah Desa Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Candi Bang dapat dicapai dari jalan kawasan Jalan raya pantura TN Baluran dengan naik sepeda motor  ke utara sekitar 10 km.

Untuk sampai ke Candi Bang melalui Pantai Perengan, Dusun Pandean, Desa Wonorejo. Pantai Perengan ini merupakan pintu masuk TN Baluran untuk sampai ke Candi Bang yang jarak tempuhnya sekitar 7 km dari Pantai Perengan.

Keberadaan Candi Bang saat ini menjadi salah satu tujuan wisata religi. Pengunjung tempat ini yang melakukan ritual / ziarah religi, setiap malam Selasa kliwon dan malam Jumat legi, berasal dari beberapa tempat, antara lain: Besuki, Probolinggo, Jember, Banyuwangi, serta Bondowoso.

Menurut informasi, setiap tahunnya, di Candi Bang diadakan ritual penyerahan kewenangan  merawat Candi Bang kepada Juru Kunci yang dinobatkan oleh Kepala Desa Wonorejo. Upacara ini menjadi daya tarik wisata bagi para pengunjung dari Candi Bang.

Informasi tentang keberadaan Candi Bang sangat penting bagi pelestarian candi ini, serta untuk menjadi wawasan bagi mereka yang mengkaji tentang Candi Bang.

Permasalahan dan Tujuan

Permasalahan yang muncul adalah sejak kapan candi Bang itu dan dari periode masa apa berasalnya Candi Bang? Permasalahan ini muncul ketika melihat simpang siurnya informasi tentang keberadaan Candi Bang yang dibungkus dengan mitos dan legenda.

Tujuan dari mengulas permasalahan dari asal usul dan keberadaan Candi Bang ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui informasi asal usul dari keberadaan Candi Bang;

2. Mengetahui berbagai informasi yang melingkupi dari keberadaan Candi Bang;

3. Menjadi referensi bagi kajian-kajian yang lebih besar tentang keberadaan dan pelestarian Candi Bang.


Metode 

Metode yang digunakan adalah Kajian Pustaka (Literature Reviews). Tinjauan pustaka adalah survei terhadap sumber-sumber keilmuan tentang topik tertentu. Ini memberikan gambaran umum tentang pengetahuan saat ini, memungkinkan Anda untuk mengidentifikasi teori, metode, dan celah yang relevan dalam penelitian yang ada.


Kajian pustaka adalah survei artikel ilmiah, buku, dan sumber lain yang relevan dengan masalah tertentu, bidang penelitian, atau teori, dan dengan demikian, memberikan deskripsi, ringkasan, dan evaluasi kritis dari karya-karya tersebut. Kajian pustaka dirancang untuk memberikan gambaran umum tentang sumber yang telah Anda jelajahi saat meneliti topik tertentu dan untuk menunjukkan kepada pembaca Anda bagaimana penelitian anda sesuai dengan bidang studi yang lebih besar. 


Kajian pustaka adalah deskripsi pustaka yang relevan dengan bidang atau topik tertentu. Ini memberikan gambaran tentang apa yang telah dikatakan, siapa penulis kuncinya, apa teori dan hipotesis yang berlaku, pertanyaan apa yang diajukan, dan metode dan metodologi apa yang sesuai dan berguna. Dengan demikian, ini bukan penelitian utama, melainkan melaporkan temuan lain.


Menulis kajian pustaka melibatkan menemukan publikasi yang relevan (seperti buku dan artikel jurnal), menganalisisnya secara kritis, dan menjelaskan apa yang anda temukan. Ada lima langkah kunci: cari literatur yang relevan; evaluasi sumber; identifikasi tema, debat, dan celah; buat garis besar strukturnya; dan tulis tinjauan pustaka anda.


Kajian pustaka / tinjauan pustaka yang baik tidak sekedar meringkas sumber. Selain meringkas sumber, kajian pustaka pun menganalisis- mensintesis, dan mengevaluasi secara kritis untuk memberikan gambaran yang jelas tentang keadaan pengetahuan tentang subjek.


Manfaat

Manfaat dari kajian tentang asal usul dan keberadaan Candi Bang untuk dipergunakan sebagai bahan informasi tentang keberadaan, pelestarian, dan pengembangan Candi Bang. Manfaat dari hasil kajian ini dibagi menjadi dua manfaat utama: manfaat teoritis atau akademis dan manfaat praktis.


Secara umum, hasil kajian ini dapat dipergunakan dalam pengambilan keputusan bagi penggalian, pelestarian, dan pengembangan berbagai potensi cagar budaya, khususnya Candi Bang.



Kajian Pustaka

Kajian pustaka (Literature Review) tentang keberadaan dari Candi Bang ini dapat ditemukan dari berbagai catatan dan berita yang ditulis di masa kolonial Hindia dan diterbitkan antara tahun 1859 sampai 1975 Masehi. Pada bagian pertama dari tulisan ini menampilkan empat (4) sumber pustaka yang menjelaskan tentang keberadaan Candi Bang di area TN Baluran.

J. Hageman Jcz. (1859). “Over de uitbarsting der vulkanen in Oostelijk Java in jaar 1586”, dalam Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch Indie uitgegeven door de Natuurkundige Vereeniging in Nederlandsch Indie, Deel XIX – Vierde Seri – Deel V, Batavia: Lange & Co., hal. 441 sampai 452.

 

Laporan J. Hageman Jcz tentang berbagai letusan gunung berapi di Bagian Timur Jawa pada tahun 1586.  Hageman menyelesaikan artikel ini di Surabaya pada tanggal 7 April 1859 Masehi (Hageman, 1859: hal. 441). 


Artikel Hageman ini diterbitkan dalam Jurnal Ilmu Alam untuk Hindia Belanda yang diterbitkan Lembaga Ilmu Alam di Hindia Belanda (Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch Indie uitgegeven door de Natuurkundige Vereeniging in Nederlandsch Indie). Koninklijk Natuurkunde Vereeninging (Lembaga Ilmu Alam Kerajaan) didirikan tahun 1850 di Batavia (Jakarta).


Tulisan dari Hageman tersebut menjelaskan tentang fenomena letusan Gunung di Bagian Timur Pulau Jawa (yang meliputi Besoeki, Panarukan, Blambangan / Banyuwangi, Poeger dan Bondowoso) dengan mengulas laporan Houtman yang melaporkan adanya letusan dahsyat pada tahun 1586.


Kedatangan Cornelis de Houtman (Houtman) di pantai laut utara Jawa pada tahun 1596. Sehingga menurut Hageman bahwa keterangan Houtman tentang Panarukan dan keberadaan letusan dahsyat gunung di bagian timur Pulau Jawa dan keberadaan Sierra da Pagoda di Panarukan berasal dari penulis Portugis seperti Barros, Pinto, Mafeo, Jerricus, dan Peta Levanto tahun 1524 M (Hageman, 1859: hal. 444).


Houtman menyebut “Sierra da Pagoda” dengan sebutan tempel berg atau gunung kuil atau candi gunung yang berada di Baloeran (kaap Sedano atau Tanjung Sedano). Di atas kaki bagian timur laut yang turun mengarah ke lalu sebelumnya berdiri kuil atau candi, yang disebut Tjandi Bang (Candi Bang), dalam cerita rakyat (legenda) merupakan tempat pemakaman Angrenne (pen. Angraini) istri Raden Pandji dari Djenggolo yang terbunuh / 1250 Masehi sampai 1300 Masehi (Hagemen, 1859: Hal. 449).

T. Roorda. ( 1864). “De Lotgevallen van Raden Pandji, Volgens de Javaansche Wajangverhalen”, dalam Bijdragen tot de Taal = Land – En Volkenkunde van Nederlandsch Indie – Nieuwe Volgreeks, Zevende Deel, Amsterdam: Frederik Muller, hal. 1 sampai 65.

 

Kisah Petualangan Raden Pandi berdasarkan Cerita Wayang Jawa, yang ditulis T. Roorda dengan judul “De Lotgevallen van Raden Pandji, Volgens de Javaansche Wajangverhalen”. Roorda menulis Petualangan Raden Panji ini berdasarkan manuskrip Jawa tahun 1860 Masehi yang berasal dari Bupati Gresik (Roorda, 1864 : hal. 65).


Salah satu bagian cerita adalah meninggalnya istri Raden Pandji yang bernama Angreni (pen. Anggraini). Angreni ini kemudian dimakamkan di Tjandi Bang  (Roorda, 1864: hal. 11).  Tulisan Roorda ini merupakan versi lengkap dari cerita Petualangan Raden Panji dari Jenggolo. Keberadaan Tjandi Bang dikaitkan dengan kisah Petualangan Raden Pandji dari Jenggolo, yaitu: pada bagian yang mengkisahkan meninggalnya dan dimakamkannya Angreni istri dari Raden Pandji.

Prof. P.J. Veth. (1869). Aardrijkskundig en Statistisch Woordenboek van Nederlandsch Indie – Derde Deel R- Z. Amsterdam: P.N. Van Kampen.

 

Sumber pustaka ketiga adalah Kamus Geografi dan Statistik di Hindia Belanda (Nederlandsch Indie) yang disusun oleh  Prof. P.J Veth (Veth, 1869). Informasi yang diperoleh dari sumber pustaka ini adalah lokasi Sedano atau Baloeran yang di dalam terdapat Tjandi Bang (Veth, 1869: hal. 268).


Sedano atau Baloeran, tanjung yang terletak pantai timur Pulau Jawa, yang terbentuk oleh pegunungan Telaga Warong, berdasarkan MEVILL van Carnbee terletak pada 70 49’ Lintang Selatan dan 1140 27’ Bujur Timur. Terletak pada ketinggian, berdasarkan SMITS 4.426, berdasarkan Melvill van Carnbee 4.204, dan berdasarkan Zolllinger 4.672 kaki di atas permukaan laut (Veth, 1869: hal. 268). 


De Sedano-kaap (tanjung Sedano) oleh Houtman dinamai “Sierra da Pagoda”, mungkin untuk menyebut kuil / candi Tjandi Bang, sebelumnya berada di kaki timur laut dengan dasar menuruninya. Sudut depang miring dengan kemiringan sedang. Kedalamannya cukup besar. Bagian bawahnya kasar dan berbatu (Veth, 1869: 268).


Di sebelah barat Tanjung ini terdapat Teluk Kecil. Sisi utara dan barat terbuka. Di Sebelah utara terletak Meinderts-drought (“Pulau Kosong”), sekitar 1 mil dari pantai (Veth, 1869: 268).


W.F. Versteeg. (1875). Atlas jai toe Kitab Jang Isinja Gambar-gambar Doenia dan Sekalien Tanah 1873 – 1874.  Di Negri Leiden: Cualth. Kolff.

 

Sumber pustaka keempat berbentuk peta (kaarten) yang disusun W.F. Versteeg. Lembaran peta nomor 6 : Gambar Tanah Djawa sebelah timoer –dengan Tanah Madoera dan Lagi Tanah Bali menunjukkan adanya nama T. Tjandi Bang yang berada di sebelah timur T. Sedano, G. Baloeran, dan Talaga Woeroeng.


Epilog Bagian Satu

Sumber-sumber kajian pustaka di atas berasal dari abad ke – 19 Masehi, yaitu: antara tahun 1859 sampai 1875 Masehi. Nama Tjandi Bang sudah disebutkan dan dikenal pada kurun waktu abad ke – 19 Masehi. Pada abad 19 Masehi ini, Kisah tentang Angraeni istri Raden Pandji dari Jenggolo telah berkembang sebagai yang dimakamkan di Tjandi Bang. 


Bagian pertama dari tulisan ini menggambarkan lokasi dan situasi dari tempat yang disebut sebagai Tjandi Bang berdasarkan sumber colonial. Dari sumber-sumber ini ditemukan beberapa data sumber terdahulu tentang keberadaan Tjandi Bang yang akan dibahas pada bagian berikutnya. (Bersambung)


Y. Setiyo Hadi

Jember, 14 Desember 2020

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama