Jejak Inskripsi di Wilayah Balumbung

 Oleh: Irwan Rakhday


Wilayah Balumbung yang merupakan amancanagari dari Kerajaan Majapahit, keletakannya diduga berada di wilayah Kabupaten Situbondo sektor timur. Toponimi Balumbung dapat dianalisis dari keberadaan sebuah Dusun bernama Balangghuan, Desa Sumberwaru, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo. Balangghuan sendiri terletak di barat Gunung Baluran.


Bujangga Manik dari Sunda Jawa Barat menulis wilayah ini dengan kata Balungbungan yang posisinya dekat Talaga Wurung (Gunung Baluran). Catatan perjalanan Bujangga Manik tersebut bahkan juga menjadi salah satu petunjuk tentang keberadaan sebuah lingga yang dia bikin selama tinggal di sana yatu tahun 1510-1511 Masehi.


 Hingga kini, pada area tersebut di permukaan terdapat sebaran artefaktual yang dapat diindikasikan dari masa klasik Hindu-Budha. Beberapa temuan arkeologis tersebut antara lain berupa fragmen tembikar, keramik Cina, pipisan, gandik, lumpang dan semacamnya. Yang menarik, batu bata berdimensi panjang 40 cm, lebar 20 cm dan tebal 4 cm. Bahkan temuan terpenting yang menjelaskan eksistensi peradaban di area tersebut adalah koin gobog Cina yang bertuliskan ' Yong Le Tong Bao'. Koin tersebut diketahui keluaran tahun 1408 Masehi, yakni era Dinasti Ming yang berkisar dari tahun 1405-1475 Masehi. Era tersebut dapat dikorelasikan dengan era Majapahit akhir yang di dalam hubungan dagang juga menggunakan alat tukar tersebut. Berdasarkan data di atas, maka lini masa peradaban khususnya di Situs Balangghuan bisa diasumsikan antara abad 15 hingga 16 Masehi.


Terkait luasan dari wilayah Balumbung sendiri, dianalisis terbentang dari timur laut Jawa meliputi Gunung Baluran hingga ke batas timur Patukangan. Patukangan yang di era Majapahit tahun 1359 Masehi  di dalam Kitab Nagarakretagama disebut sebagai tempat berkumpulnya para mentri dari Bali, Madura dan Balumbung, batas timurnya diperkirakan di Desa Landangan, Kecamatan Kapongan yaitu sungai Tlogo.


Inskripsi Balumbung


Dari aspek arkeologis yang merupakan sumber primer, pada rentang tahun 1377 Saka/1455 Masehi hingga 1395 Saka/1473 Masehi eksistensi kewilayahan Balumbung didukung oleh keberadaan prasasti. Prasasti yang dimaksud yaitu:

1. Prasasti Widoro Pasar



Prasasti Widoro Pasar masih insitu.

Prasasti Widoro Pasar terletak di  Dusun Widoro Pasar, Desa Banyuputih, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo. Keletakan prasasti yang masih insitu ini diklasifikasikan sebagai blok dari Situs Mellek yang 'pusatnya' di Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih. Sebelum diklasifikasikan sebagai sebuah blok, kekunaan Widoro Pasar diidentifikasi sebagai situs tersendiri (Rakhday, 2019).  Prasasti menghadap ke arah utara agak sedikit menyerong ke arah barat laut. (Masih dalam  satu wilayah kecamatan dengan Situs Balangghuan). 


Ciri objek tersebut, bagian atas berbentuk kurawal (aculade) mirip batu nisan. Pada salah satu sisinya terdapat angka tahun berhuruf jawa kuno 1377 Saka / 1455 Masehi. Di bawah angka tahun terdapat 12 baris tulisan yang kondisinya sudah aus. Pada sisi yang lain terindentifikasi 14 baris yang juga sudah aus.


Prasasti Widoro Pasar berada di tengah areal persawahan. Hingga tahun 2020 prasasti tersebut dinaungi atap dan diberi pagar serta dipasang lantai keramik pada permukaan tanah dalam pagar sekeliling objek.


Kesejarahan Prasasti Widoro Pasar dapat dianalisis dari angka 1377 Saka / 1455 Masehi sebagai lini masa keletakan prasasti yang masih insitu menunjukkan eksistensi wilayah tersebut pada abad ke 15. Pada tahun 1455 Masehi tersebut , wilayah yang saat ini secara administrasi berada di Kecamatan Banyuputih dalam kondisi terjadi kekosongan kekuasaan.


Dalam catatan sejarah peristiwa penting yang berkorelasi adalah Ratu Suhita yang merupakan  penguasa  kerajaan Majapahit menyerahkan pemerintahan kepada bangsa Tumapel Kertawijaya (1447-1451 Masehi). Sepeninggalnya Bhre Pamotan  menjadi raja dengan gelar Sri Rajasawarddhana. Dia mangkat pada tahun 1453 Masehi, akibatnya 3 tahun singgasana Majapahit kosong. Di sela kekosongan kekuasaan Majapahit itulah, dimungkinkan penguasa lokal di Banyuputih atau tepatnya di Widoro Pasar, membuat prasasti angka tahun 1377 Saka / 1455 Masehi. Belum diketahui siapa penguasa lokal tersebut. Yang pasti pada 1456 Masehi, Bhre Wengker naik ke tampuk pemerintahan Majapahit hingga 10 tahun.


Dalam rentang jarak yang panjang, keberadaan Prasasti Widoro Pasar diidentifikasi pada masa kolonial di dalam Verhandelingen Van Bataviaasch Genootschap Van Kunsten en Wetenschappon Del XLVI tulisan  Martin Nijhhoff pada hal 324 nomor 664:

 Widara Pasar District Soember Waroe Afdeeling Panaroekan, Blad S.W. Eon Steen Met Het Jaartal 1377 saka, 3 kilometer ten noordoosten van de desa Widara Pasar. Deze steen is aan de voorijde buneden het jaartal genesh en aan de achterijde hal besechreven maar het schrift is ten eenenmale on leesbaar. Lit. Notulen XX 1882, P.55 Aanbieding teekening steen bij asem bagoes met jaartal 1377 caka (zieook not.XX 1882.D.72). Veertek Not. XXV 1887.p.7. Aanbieding afdruke jaartal 1377 caka.op.een steenten N.O. van Widara Pasar. (Nijhoff, 1891)


2. Prasasti Agel

Prasasti Agel yang ditempatkan di halaman Museum Balumbung sejak tahun 2020.


Prasasti Agel  terletak di Desa Agel, Kecamatan Jangkar, Kabupaten Situbondo. pada bagian atasnya berbentuk kurawal (akulade), mirip batu nisan. Pada sisi depan atas prasasti tersebut tertera angka tahun 1395 Saka / 1473 Masehi. Keterangan mengenai keberadaan  prasasti di Agel terdapat dalam karya tulis Martin Nijhoff dalam Verhandelingen Van Bataviaasch Genootschap Van Kunsten en Wetenschappon Del XLVI halaman 324  nomor 663:
 
District Kali tikoes, afdeeling Panaroekan, Blad Q.III. Twee steenen, ieder met het jaartal 1395 Caka in groote gove cijfers: in de desa Agel. Lit.Verbeek. Not. XXV 1887. p. 7. Aanbieding afdruk jaartal 1395 Caka, voorkomende op 2 steenen te Agel.(Nijhoff, 1891)

Dalam catatan Belanda tersebut diterangkan terdapat 2 buah batu. Konfirmasi terakhir yang dilakukan di lapangan, Kepala Desa Agel Chairil Anwar menyebutkan bahwa ada batu yang lain yang masih belum ditemukan berbentuk persegi panjang.


Prasasti berbentuk kurawal ini ditemukan di tangan kolektor pada tahun 2019. Lantas, sejak 4 April 2020, prasasti tersebut ditempatkan di halaman Museum Balumbung yang dinaungi Yayasan Museum Balumbung Situbondo, Jalan Raya Asembagus, Situbondo.(*)


Sumber:

Martin Nijhoff, Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunstenen Wetenschappen Deel XLVI, 1891


Irwan Rakhday, Jejak Majapahit di Kabupaten Situbondo, FPPS-PICB Balumbung, 2019


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama