Sekilas Situbondo Dalam Tiga Sudut Sejarah


Oleh : Prayudho. BJ *)


Tlatah kesejarahan Situbondo dibentuk berdasarkan tiga kebudayaan utama di timur, tengah dan barat wilayah Situbondo. Wilayah timur diwakili oleh kebudayaan Balumbungan yang berpusat di Banyuputih. Wilayah tengah dapat dilihat pada sisa jejak kebudayaan Patukangan dan wilayah barat dengan kebudayaan Keta. Ketiga wilayah budaya sejarah tersebut dalam suatu masa, memiliki garis waktu yang bersinggungan namun dalam masa yang lain tidak memiliki keterkaitan. Penyebabnya bisa bermacam macam, bergesernya wilayah kesejarahannya atau tidak cukup data untuk dapat mengeksplorasi lebih jauh.


Mengapa saya menyebutnya sebagai wilayah budaya sejarah? karena pada prinsipnya ketiga wilayah tersebut meninggalkan jejak karakter yang relatif berbeda dalam berbagai tinggalannya. Terdapat jejak tumbuh kembang suatu pemerintah yang berbeda-beda pada ketiga wilayah budaya tersebut dan terdapat bukti fisik serta tinggalan toponimi. Belum lagi tinggalan budaya seperti mamaca, macapat ojhung dan lain sebagainya.


Balumbungan, Patukangan dan Keta secara teks disebutkan dalam kitab Negarakertagama atau Desawarnana. Sebenarnya ada banyak penyebutan wilayah lain di Situbondo pada kitab tersebut, namun insyaAllah akan kita bahas dalam waktu yang berbeda. Mengapa ketiga tempat tersebut, menjadi khusus diperhatikan? karena keberadaan ketiga wilayah kesejarahan di Situbondo tersebut memiliki makna dan fungsi khusus, seperti sebuah wilayah pemerintahan yang cukup besar dan disegani pada masa itu. Kitab tersebut ditulis oleh Mpu Prapanca yang merupakan  mantan dharmādhyakṣa kasogatan atau penghulu agama Buddha kerajaan Majapahit.



Pemandangan sore hari Dusun Balangguan yang berlanskap Gunung Baluran. 


Balumbungan atau Balumbung -demikian beberapa pegiat sejarah menyebut- banyak dipersamakan dengan Blambangan. Namun jika kita tilik pada kartografi kuno dan beberapa literatur lainnya, maka kita akan tahu bahwa posisi serta lini masa Blambangan berbeda dengan Balumbungan. Tulisan ini tidak membahas hal di atas (mungkin dalam tulisan berbeda lain waktu).


Balumbung dalam kartografi tertua eropa yang bisa kita lacak, terletak di sekitar Desa Sumberwaru, Kecamatan Banyuputih dengan tinggalan toponim sebuah dusun bernama Balangguan beserta sebaran  artefak termasuk bata kuno.

Toponim  Balangguan memiliki kedekatan penyebutan dengan Balumbungan yang oleh penjelajah eropa disebut sebagai Balamboam. Di sekitar Balangguan, terdapat berbagai jejak temuan hunian kuno yang mengisyaratkan wilayah tersebut merupakan hunian lama. Beragam temuan seperti uang kuno, peralatan perang jaman kerajaan, keramik baik yang utuh maupun pecahan dan struktur pecahan bata jamak ditemukan di sana. Terdapat kota-kota kuno lain dalam kartogragi awal abad 16 seperti Prasadha dan Chandhana. Dan ini didukung oleh temuan Situs Mellek (atau Melik) dengan luasan pada Desa Sumberejo dan Desa Banyuputih, serta situs di Desa Bantal.


Balumbungan memiliki tempat istimewa bagi kerajaan Majapahit terutama pada era Hayam Wuruk. Sebuah kutipan dalam Kitab Negarakertagama pupuh 28 ayat 1, menyebutkan: Balumbungandelan ika Karuhun, yang artinya Balumbung(an) kepercayaan sang Baginda.  Yang dimaksud, bisa pemimpin Balumbung(an) adalah orang kepercayaan baginda Hayam Wuruk dan ini linier dengan wilayah tersebut merupakan kepercayaan atau andalan sang Nata. 


Bergeser ke Patukangan, sang Nata Raja Hayam Wuruk dalam ekspedisi ke wilayah timur (disebut sebagai wilayah Lamajang) secara khusus bermalam di Patukangan yang saat ini berada di Panarukan, Kabupaten Situbondo. Tinggalan toponim Patukangan atau dalam Negarakertagama tertulis Patukanann (dengan n dobel ya) diduga terdapat pada Dusun Tokengan, Desa Peleyan, Kecamatan Panarukan. Masyarakat, di sekitar dusun, seringkali memberikan imbuhan (pa) untuk penyebutan Tokengan. Dalam radius tertentu hingga ke Desa Duwet, kita akan menemukan banyak sekali reruntuhan peradaban Patukangan kuno pada hamparan sawah di antara Duwet dan Peleyan.


Sebagaimana Balumbungan yang namanya tersudut dalam ruang sunyi sejarah sebuah dusun pada masa kini, Patukangan yang tersemat pada Dusun Tokengan tak lantas dapat diartikan wilayah Patukangan adalah seukuran desa kecil pada masa kini. Negarakertagama menerangkan secara detail bagaimana perjalanan dan kegiatan rombongan di sana. Beberapa catatan Eropa pada abad berikutnya juga menegaskan secara kewilayahan bahwa Panarukan merupakan sebuah wilayah dengan kepemimpinan tersendiri. 


Penamaan Patukangan dalam konteks sosiologi masyarakat dapat dilihat dari bagaimana masyarakat sekitar Situbondo masa kini (Besuki- Prajekan- Asembagus) menyebut kota Situbondo dengan sebutan Patokan. Dan nama Patokan lekat hingga saat ini pada suatu kelurahan. Beberapa versi yang tidak memiliki landasan sejarah yang logis cenderung mengadakan-adakan kisah.


Nah, kembali ke penamaan Patukangan, Patokan dan Patukanann, menurut saya masih memiliki konteks yang relevan dalam memori masyarakat Situbondo untuk kemudian diturunkan dari generasi ke generasi tanpa disadari perubahan secara fisik nama wilayah tersebut. Jadi, penyebutan Patokan untuk kota Situbondo masih berhubungan dengan Patukanann dalam Negarakertagama yang pada masa kini tersudut dalam penamaan sebuah Dusun (pa)tokengan dengan segala tinggalan arkeologisnya.


Patukangan dalam literasi Panarukan merupakan dialektika penyebutan Eropa yang dapat ditracking dari peluruhan nama  Patukangan ke Panarukan dari peta- peta Eropa untuk wilayah di Nusantara mulai abad ke- 16 hingga abad ke -19. Namun, dalam penelusuran kami, nama Patukangan dan Panarukan boleh jadi memiliki asal kata yang berbeda meski dalam perjalanan waktu dianggap sama. Panarukan bisa jadi merupakan sebuah nama pelabuhan yang diambil dari Paowan, yang memiliki asal kata Praowan (menurut tutur di Desa Paowan) atau tempat kapal di teluk Locancang. Locancang sendiri menurut tutur masyarakat di sana adalah pohon loh tempat mencancang perahu. Tetapi hipotesis di atas masih perlu pembuktian lebih lanjut. 


Patukangan atau Panarukan merupakan negara bawahan pada era Majapahit yang dipimpin oleh keluarga inti kerajaan sendiri. Hal ini tersirat dari bagaimana pertemuan dan kelengkapan alat negara tersedia di Patukangan saat muhibah sang Nata yang tercatat dalam Negarakertagama. Kemandalaan memiliki perangkat hukum yang sama namun satu tingkat dibawah kerajaan utama. 


Seorang anak Dusun Balangguan, Desa Sumberwaru, Kecamatan Banyuputih sedang menenteng sampel bata berukuran panjang 40 cm dan lebar 20 cm.

Pada tahun 1528 Panarukan tercatat memiliki hubungan diplomatik dengan Portugal di Malaka yang menandakan terlepasnya hubungan negara bawahan dengan Majapahit. Panarukan sendiri merupakan cikal bakal Kabupaten Situbondo masa modern saat ini. (*)


*)penulis adalah founder Patukangan Reborn Society, tinggal di Kabupaten Situbondo.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama