Kajian Arca Dewi Laksmi Temuan Hutan Baluran Versi Tim Cagar Budaya YMBS

 Oleh: Irwan Rakhday


Tim Cagar Budaya YMBS (Yayasan Museum Balumbung Situbondo) melakukan kajian terhadap arca Dewi Laksmi yang merupakan temuan Misyono pada tahun 2013, di Hutan Baluran Situbondo. 
Hasil kajian atas ODCB (Objek Diduga Cagar Budaya) disimpulkan bukan cagar budaya. 

Apa saja analisis terhadap arca yang dikaji di Pondok Dapur Sodu, Desa Perante, Kecamatan Asembagus,Kabupaten Situbondo, Ahad (6/9/2020)? Berikut uraiannya:
Bahwa di dalam ilmu ikonografi yang  merupakan ilmu untuk mengetahui ciri khas dari arca, kita bisa mengetahui dari gaya, misal gaya mudra, raut wajah untuk membedakan arca kuno atau arca baru.
Dalam mitologi Hindu, Laksmi berarti dewi keberuntungan dan kemakmuran. Kata Laksmi berasal dari kata Sanskerta Laksya, yang berarti "tujuan" atau "tujuan," dan dalam agama Hindu, ia adalah dewi keberuntungan dan kemakmuran segala bentuk, baik material maupun spiritual.

Terkait analisis terhadap arca Dewi Laksmi:
1. Bentuk muka, dada hingga ke bawah tidak proporsional.  Padahal untuk sebuah tokoh dewi tentu harus proporsional.
2. Sikap mudra (posisi tangan) tidak masuk pada konteks. Konsep tangan sebelah kiri bumisparsiyamudra memegang camara , yang sebelah kanan tidak masuk konteksnya.
3. Makuta arca diragukan jenisnya.
Diketahui, jenis makuta ada tiga, pertama Jatamakuta (rambut yang digelung) , kedua kirita makuta (model mahkota emas), Karanda makuta (sorban). 

Pada arca tersebut, yang meragukan adanya perpaduan antara seperti mencontoh Pradnyaparamitha atau Kendedes , namun atasnya memakai model gelung atau Jatamakuta, hal yang di luar pakem. Kesimpulannya, benda tersebut tidak memenuhi syarat sebagai arca kuno atau tinggalan sejarah.

Sebelum itu, Tim Cagar Budaya YMBS melakukan konsultasi pada beberapa arkeolog, salah satunya adalah arkeolog senior Suwardono dari Malang. Suwardono memiliki pandangan analisis yang menekankan pakem arca menjadi acuan utama. Jika pakemnya tidak sesuai, maka dugaan kuat menjadi satu kepastian status arca tersebut bukan arca kuno.

Kronologi 'Perjalanan' Arca

Pada tanggal 10 Maret 2013, seorang pencari rumput bernama Misyono, Warga Dusun Karanganyar, Desa Sumberwaru, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo menemukan 
sebuah patung kuno yang diduga peninggalan kerajaan ditemukan warga di kawasan Hutan Baluran, Situbondo.


Dikisahkan, saat ditemukan patung itu terlilit akar pohon jati yang terletak beberapa meter dari jalan raya. Saat itu Misyono hendak buang air kecil. Patung tersebut sempat ditawar pengendara roda empat yang melintas hendak ke Pulau Bali, namun Misyono memilih membawa patung tersebut pulang. 

Beberapa hari kemudian , sejumlah media memberitakan penemuan tersebut, setelah pihak aktivis yang tergabung dalam FPCB (Forum Penyelamat Cagar Budaya) bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Situbondo mengobservasi patung tersebut.

Pada tanggal 10 April 2013, BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Jatim melakukan kajian terhadap ODCB (Objek Diduga Cagar Budaya) tersebut di pendopo Kabupaten Situbondo. Dikawal arkeolog UGM Johannes Marbun juga Mansur Hidayat dari LSM MPPM (Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit) Timur, Ainun Jamil dari FPCB serta sejumlah aktivis lainnya, BPCB merekomendasikan penetapan terhadap ODCB tersebut sebagai CB (Cagar Budaya).

Pada tahun 2015 ketika Pemkab Situbondo mendirikan Museum Kebangsaan di Desa Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Bupati Dadang Wigiarto meminta LSM Wirabhumi untuk memberikan kontribusi konsep museum di antaranya menaruh koleksi artefak yang dikumpulkan dari sejumlah situs termasuk Arca Dewi Laksmi.

Status arca Dewi Laksmi adalah milik negara, dengan pertimbangan merupakan koleksi yang unik dan setelah dilaksanakan  kompensasi pada Misyono, penemunya.
Sehingga arca tersebut disimpan oleh Pemkab Situbondo dengan koordinasi LSM Wirabhumi.

Pada tahun 2016 pihak LSM Wirabhumi menguji keaslian arca tersebut secara tidak resmi pada 3 arkeolog. Setelah dilakukan tes kebendaan, diperoleh kesimpulan bahwa arca tersebut bukan arca kuno.
Dan di tahun 2020 ini setelah Tim Cagar Budaya YMBS memberikan hasil kajian pada publik, ke depan nantinya diharapkan ada kajian resmi TACB (Tim Ahli Cagar Budaya) Kabupaten Situbondo.

Meski pada akhirnya, arca tersebut disimpulkan bukan cagar budaya, tetapi paling tidak semangat pelestarian para aktivis saat mengawal arca temuan tersebut 7 tahun silam patut ditiru. Toh, arca tersebut juga bisa replika tokoh dewi dan bahan edukasi bagi generasi mendatang. (*)


Tim Cagar Budaya YMBS memeriksa atribut arca secara mendalam.

Tim Cagar Budaya YMBS saat mencatat narasi data analisis arca Dewi Laksmi.
 
Arca Dewi Laksmi tampak kanan.

Arca Dewi Laksmi tampak depan.

Misyono bersama arca temuannya.

Misyono saat menyerahkan arca temuannya pada Bupati Situbondo Dadang Wigiarto.

BPCB Jatim saat melakukan kajian pada 10 April 2013.

1 Komentar

  1. The Golden Nugget Casino in Paradise, Nevada
    The Golden 화성 출장샵 Nugget Casino in Paradise, 하남 출장샵 Nevada. Casino was opened 강릉 출장안마 on October 20, 남원 출장마사지 1984 by William G. “We 군포 출장안마 were very pleasantly surprised to

    BalasHapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama