Analisis Temuan Situs Alassumur Bondowoso Dari Aspek Geoarkeologi



                   Oleh: Irwan Rakhday

.


Sebuah struktur bata pada kedalaman
5,8 meter yang ditemukan di Dusun Alassumur Selatan, Desa Alassumur, Kecamatan Pujer, Kabupaten Bondowoso pada Jumat (28/8/2020) menarik dianalisis keberadaannya. Diketahui, struktur yang berada pada koordinat 07°59′53.45′′ S 113°52′27.35′′ E tersebut terdiri dari 8 lapis bata. Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) tersebut ditemukan  pada sebuah penggalian sumur di lahan pasangan Abdul Ghani dan Hardianti.

Kolase foto kondisi Situs Alassumur pada kedalaman.

Selain temuan struktur, terdapat fragmen keramik dengan ketebalan 7 mm. Warna abu-abu mengkilap, diameter dudukan 5 cm, badan keramik bagian bawah bermotif blimbingan. Sedangkan pada bagian dalam putih keabu -abuan, dilapisi zat pelapis berwarna bening.

Informasi temuan lain, sebuah mangkok keramik dalam keadaan utuh. Cirinya berwarna ungu bercak putih, bibir mangkok berwana coklat dan pada bagian luar berwarna hitam. Diameter dudukan bawah 8,2 cm dengan ketebalan 7 mm. Diameyer bibir mangkok 8,5 cm. Badan mangkok bagian dalam halus rata dan mengkilat. Badan luar agak kasar dan rata. Motif luar berlapis lapis sebanyak 5 level.
Namun kondisi mangkok yang masih utuh dan bagus ini masih menimbulkan keraguan sejumlah pradaya (pegiat sejarah dan cagar budaya).

Terlepas dari itu, observasi yang dilakukan Ahli Cagar Budaya Pratama Kabupaten Bondowoso, Imam Safi'i, S.AB menyebutkan bahwa secara umum struktur tersebut ada 8 lapisan. Sedangkan pada bagian pojok  terdiri dari 14 lapis bata. Dimensi bata yang dijadikan sampel, panjangnya 30 cm, lebar 6,5 - 7 cm, tinggi 6 cm.

Sejumlah bata lepasan Situs Alassumur  yang diangkat ke permukaan tanah.

Jika melihat posisi temuan tersebut, patut diduga struktur bata yang dimensinya lazim diketahui dari masa klasik yang teruruk ratusan tahun oleh letusan gunung. Apalagi diketahui, jaraknya dengan puncak Gunung Raung 24,04 km. Ketinggian lokasi 379 mdpl. Bandingkan dengan jarak Situs Ledokombo di Kabupaten Jember yang ditemukan beberapa waktu sebelumnya yaitu  21,47 km dari puncak Gunung Raung. Ketinggian Situs Ledokombo 419 mdpl.

Jarak antara puncak Gunung Raung dengan Situs Alassumur. (doc.Imam.S)


Jarak antara puncak Gunung Raung dengan Situs Ledokombo (doc.Imam.S)

Ir. Agoes Karyanantio Pemerhati Geoarkeologi yang merupakan alumni Tekhnik Geologi Universitas Gajah Mada (UGM) dalam wawancara pribadi membenarkan jika urukan terjadi terhadap struktur di Alassumur karena dampak letusan Gunung Raung, sebagaimana terjadi pada Situs Ledokombo dengan temuan struktur bata yang juga berukuran besar.

Sedikit ada lapisan pasir di atas struktur bata di Alassumur, ketebalan sekitar 30 cm. Sedangkan  di atasnya berupa tanah yang dimungkinkan awalnya adalah pasir vulkanik.

Agoes menyebut jika komposisi 30 cm pasir murni memang tipis untuk sedimen lahar, tapi jika daerah itu curah hujan > 2.000 mm/tahun maka bagian atas pasir murni terkena proses pelapukan intensif. Artinya, bisa saja pasir vulkanik berubah jadi tanah.

Fakta lain, di selatan lokasi ada sungai yang disebut sungai Clangap yang hulunya Gunung Raung. Dimungkinkan rembesan air secara akumulatif mengubah sifat tanahnya. Bisa jadi, air akan cepat membuat pasir menjadi tanah lempung.
Struktur bata di Situs Ledokombo, Kabupaten Jember yang kedalamannya 1,5 meter.

Dari analisis peta topografi, dari ada kelerengan yang lebih landai di Situs Alassumur dari pada Situs Ledokombo. Maka ketebalan lahar dingin mencapai minimal hampir 6 meter dari pada yang Ledokombo hanya 1,5 meter. Logikanya, tebing yang curam di atas Situs Ledokombo sedimen lahar mengalir cepat, sehingga yang terendapkan tipis.
Sedangkan pada Situs Alassumur, lereng lebih landai sehingga aliran lahar lebih perlahan dan hasilnya sedimen lebih tebal.

Aspek Sejarah

Nama Bhre Pakembangan dalam catatan sejarah diduga terletak di wilayah Kabupaten Bondowoso.
Di Kedaton Pakembangan raja yang memerintah bergelar Bhre Pakembangan. Dia merupakan anak Sulung Bhre Wirabhumi. Namun setelah Bhre Wirabhumi tewas pada tahun 1406 Masehi akibat perang paregreg,  tidak diketahui nasib Bhre Pakembangan beserta kedatonnya.

Apakah Bhre Pakembangan itu disuruh ayahnya lari ke Tumasik tahun 1405 Masehi sebelum Bhre Wirabhumi kalah dari Wikramawardhana? Kemudian mengganti nama jadi Parameswara ? Hal ini masih menjadi diskusi hangat para pemerhati.
Tetapi dari penelusuran genealogi bukan, karena Parameswara Raja Tumasik adalah turunan Raja Malaka silangan dengan Palembang.

Masih menurut Agoes, terkait dengan temuan baru di Alassumur yang struktur batanya teruruk pasir ( lahar dingin ) lebih pas diangkat sebagai hipotesis kerajaan Pakembangan hancur karena lahar.

Dia menyebut, ada referensi fakta Kedaton Balumbung di Banyuputih, Situbondo yang reruntuhannya diketahui sebagai Situs Mellek, juga teruruk pasir lahar dingin dan debu Gunung Ijen.

Verbeek dan Fennema pada tahun 1896 mencatat bahwa terjadi letusan dahsyat Gunung Raung dengan sejumlah korban manusia pada tahun 1586 dan tahun 1597.

Sementara Brouwer di tahun 1913 mencatat bahwa terjadi letusan yang dahsyat pada tahun 1638 yang diikuti banjir besar dan aliran lahar yang melanda daerah antara Kali Setail dan Kali Klatak. Disebutkan, korban manusia mencapai ribuan orang.

Analisis berdasarkan observasi dan diskusi ini tentunya perlu diuji secara ilmiah. Tantangan buat para peneliti, pemerhati sejarah dan cagar budaya untuk menguak eksistensi situs sebagai bukti tinggalan arkeologis dari fakta sejarah sebuah peradaban (*)

3 Komentar

  1. Temuan yang sangat berharga dan memiliki nilai penting, perlu dilakulan kajian lanjutan untuk mengungkap sejarah Bondowoso pada masa lalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan hanya milik Kabupaten Bondowoso, tetapi aset bangsa yang harus dilestarikan.

      Hapus
  2. Ini yang perlu dilestarikan dan dijaga, karena ini merupakan aset bangsa yang tidak ada harganya.. Historia Vitae Magistra.

    BalasHapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama