oleh:
Tim KKN-K Sumberwaru 2026
kknsumberwaru.26@gmail.com
PENDAHULUAN
Warisan budaya tidak hanya hadir dalam bentuk bangunan, benda pusaka, atau tradisi yang masih berlangsung, tetapi juga melalui unsur visual yang menyimpan pengetahuan mengenai cara masyarakat masa lalu memandang alam, kehidupan, dan lingkungan sosialnya. Salah satu bentuk warisan visual tersebut adalah ragam hias. Dalam konteks kebudayaan Nusantara, ragam hias tidak semata-mata berfungsi sebagai dekorasi, tetapi pada konteks tertentu dapat berkaitan dengan nilai simbolik, keagamaan, dan pandangan kosmologis masyarakat pendukungnya. Kajian terhadap ragam hias dengan demikian dapat menjadi salah satu cara untuk memahami hubungan antara bentuk visual dan kebudayaan yang melahirkannya.
Konteks tersebut menjadi relevan bagi Desa Sumberwaru, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, khususnya Dusun Blangghuan. Sumberwaru merupakan salah satu desa yang berbatasan dengan kawasan Taman Nasional Baluran dan memiliki sejarah interaksi masyarakat dengan lingkungan alam serta kawasan tersebut. Penelitian mengenai masyarakat Sumberwaru menunjukkan bahwa desa ini memiliki hubungan sosial, ekonomi, dan budaya yang erat dengan kawasan Baluran (Lydiasari, 2016). Di sisi lain, Blangghuan diketahui memiliki sejumlah temuan material yang oleh pegiat sejarah lokal dikaitkan dengan jejak kekunoan, antara lain fragmen keramik, mata uang gobog, dan bata berukuran besar (Hairon, 2020). Kondisi tersebut menunjukkan adanya potensi warisan budaya lokal yang masih membutuhkan dokumentasi dan kajian lebih lanjut.
Selubung Tiang Balumbung
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Salah satu temuan yang menarik untuk dikaji adalah fragmen selubung tiang yang memiliki pahatan ragam hias pada permukaannya. Fragmen tersebut memperlihatkan komposisi ornamen flora yang disusun secara simetris, dengan bentuk sentral dan sulur yang berkembang pada kedua sisi. Secara visual, beberapa unsurnya memiliki kemiripan dengan ragam hias yang dikenal dalam tradisi Jawa, khususnya sulur gelung dan ragam hias tumbuh-tumbuhan yang berkembang pada bangunan keagamaan masa Hindu-Buddha. Penelitian Nizam, Nugraha, dan Gustami (2018) menunjukkan bahwa ragam hias sulur gelung teratai ditemukan pada berbagai bangunan Hindu-Buddha di Jawa, termasuk Candi Prambanan dan Candi Surowono di Kediri. Ragam tersebut bahkan memiliki sejarah perkembangan yang panjang dan tetap bertahan dalam bentuk yang mengalami adaptasi pada periode berikutnya.
Persamaan visual tersebut menimbulkan persoalan penting. Apakah ragam hias pada fragmen selubung tiang Balumbung merupakan bagian dari tradisi ragam hias yang lebih luas di Jawa dan Nusantara, ataukah memiliki konfigurasi serta pemaknaan tertentu yang dapat dikaitkan dengan konteks budaya Sumberwaru? Pertanyaan tersebut penting karena identitas budaya tidak selalu terbentuk dari unsur yang sepenuhnya berbeda dari daerah lain. Sebuah identitas dapat terbentuk melalui proses penerimaan, adaptasi, dan pengembangan unsur budaya yang kemudian memperoleh karakter lokal.
Berdasarkan persoalan tersebut, tulisan ini bertujuan mengeksplorasi unsur visual pada ragam hias fragmen selubung tiang Balumbung, menelusuri makna yang mungkin melekat pada unsur-unsur tersebut berdasarkan literatur ragam hias Nusantara, serta melihat potensinya sebagai bagian dari identitas budaya Sumberwaru. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menetapkan usia, asal-usul, atau afiliasi kebudayaan fragmen secara definitif, melainkan sebagai kajian awal untuk memahami nilai visual dan budaya yang terkandung di dalamnya.
PEMBAHASAN
Fragmen Selubung Tiang sebagai Sumber Warisan Visual Blangghuan
Fragmen Selubung tiang yang ditemukan di Bukit Glingseran dapat dipahami sebagai bagian dari objek arsitektural yang telah mengalami fragmentasi. Secara keletakan, Bukit Glingseran terletak pada rentang wilayah antara ODCB Situs Candi Bang di pesisir laut hingga Dusun Blangghuan di dataran pinggiran hutan. Rentang ini merupakan satu kesatuan lanskap yang diduga memiliki keterkaitan pada masa lalu. Oleh karena itu, penamaan "Selubung Tiang Balumbung" dirasa lebih patut. Nama ini tidak hanya merujuk pada titik temu geografis, tetapi juga mengikat eksistensi wilayah pada era klasik Hindu-Buddha, yakni masa sebelum ada penyebutan Blangghuan maupun Baluran seperti sekarang.
Dengan demikian, istilah "Balumbung" diharapkan dapat mewakili identitas kultural kawasan secara lebih utuh dan netral, tanpa terkunci pada satu nama dusun atau kawasan hutan tertentu saja. Istilah “fragmen” digunakan secara sengaja karena objek yang tersedia tidak lagi berada dalam kondisi utuh sehingga fungsi dan bentuk keseluruhannya belum dapat dipastikan hanya berdasarkan bagian yang tersisa (Rakhday, 2026). Oleh karena itu, pembacaan terhadap ragam hias perlu dilakukan dengan memperhatikan keterbatasan data visual yang tersedia.
Pada permukaan fragmen terlihat komposisi ragam hias yang didominasi oleh bentuk tumbuhan dan sulur. Bagian tengah memperlihatkan sebuah bentuk sentral yang secara visual berbeda dari sulur di sekitarnya. Bentuk tersebut memiliki susunan vertikal dan bertingkat, sedangkan pada bagian atasnya terdapat elemen flora yang berkembang ke arah kiri dan kanan. Komposisi keseluruhan menunjukkan kecenderungan simetris, sehingga kedua sisi ornamen tampak disusun sebagai pasangan yang saling berhadapan.
Karakter tersebut penting karena ragam hias tumbuhan dalam tradisi Jawa Kuno umumnya tidak menggambarkan tumbuhan secara naturalistis. Tumbuhan mengalami stilasi sehingga bentuk asli di alam diubah menjadi bentuk artistik dan kemudian dikombinasikan dengan unsur lainnya. Literatur mengenai ragam hias candi di Jawa membedakan bentuk tumbuhan naturalistis dan bentuk stilisasi, sementara sulur lengkung dan sulur gelung termasuk bentuk yang mengalami penggayaan sedemikian rupa sehingga menjadi unsur dekoratif pada bangunan (Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, 2015).
Dengan demikian, pembacaan terhadap fragmen tidak cukup dilakukan dengan mengidentifikasi “bunga” atau “daun” secara literal. Yang lebih penting adalah melihat bagaimana unsur-unsur alam tersebut diubah menjadi bahasa visual tertentu melalui pengulangan, simetri, stilisasi, dan hubungan antara satu bentuk dengan bentuk lainnya.
Sulur dan Konsep Pertumbuhan
Salah satu unsur yang paling mudah dikenali pada fragmen adalah bentuk sulur yang berkembang secara melingkar. Dalam tradisi ragam hias Jawa, bentuk seperti ini dikenal sebagai sulur gelung, yaitu bentuk tumbuhan yang melingkar dan saling berhubungan. Sulur gelung ditemukan pada berbagai bangunan Hindu-Buddha di Jawa, baik Jawa Tengah maupun Jawa Timur (Wicaksono & Nizam, 2019).
Keberadaan sulur pada fragmen selubung tiang Balumbung menjadi menarik karena dalam beberapa kajian, sulur tumbuhan tidak hanya dipahami sebagai unsur pengisi bidang. Nizam, Nugraha, dan Gustami (2018) menjelaskan bahwa sulur gelung teratai atau padmamūla dapat digambarkan sebagai tumbuhan teratai yang tumbuh dari bonggol atau akar dan berkembang menjadi sulur. Dalam kajian tersebut, bentuk padmamūla dihubungkan dengan konsep kosmogoni Hindu mengenai proses penciptaan dan pembentangan alam semesta.
Namun, hubungan tersebut tidak dapat langsung diterapkan sebagai makna asli fragmen Blangghuan. Kemiripan bentuk dengan sulur gelung hanya menunjukkan adanya kemungkinan hubungan dengan tradisi visual yang lebih luas. Makna simbolik harus dipertimbangkan bersama konteks benda, lokasi, fungsi, dan periode pembuatannya.
Dalam konteks visual, sulur pada fragmen dapat dibaca sebagai representasi pertumbuhan dan keberlanjutan. Bentuk yang terus melingkar dan berkembang menciptakan kesan gerak yang tidak berhenti. Interpretasi tersebut sejalan dengan karakter tumbuhan sebagai sumber inspirasi utama ragam hias klasik, tetapi tetap harus ditempatkan sebagai interpretasi, bukan fakta historis mengenai maksud pembuat fragmen.
Bentuk Sentral: Jambangan, Flora, atau Struktur Arsitektural?
Unsur paling menarik sekaligus paling problematis pada fragmen adalah bentuk yang berada di bagian tengah. Secara visual, bentuk tersebut memiliki susunan vertikal dan beberapa lapisan horizontal. Pada pandangan pertama, bentuk ini dapat menyerupai sebuah wadah atau jambangan yang menjadi pangkal tumbuhan. Dalam tradisi ragam hias Jawa, bentuk tumbuhan yang keluar dari jambangan dikenal sebagai Purnakalasa, sedangkan tumbuhan yang keluar dari guci dikenal sebagai Purnaghata. Keduanya merupakan bagian dari ragam hias tumbuh-tumbuhan yang digunakan pada bangunan candi. Literatur mengenai ragam hias candi di Jawa mencatat Purnakalasa sebagai bunga teratai yang keluar dari jambangan dan Purnaghata sebagai bunga teratai yang keluar dari guci; keduanya dikaitkan dengan keberuntungan dan kebahagiaan (Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, 2015).
Motif Purnakalasa
Sumber: (Sekolapedia, 2026)
Akan tetapi, bentuk sentral pada fragmen selubung tiang Balumbung tidak dapat langsung dikategorikan sebagai jambangan. Susunannya juga memungkinkan pembacaan sebagai bentuk arsitektural atau elemen bangunan bertingkat. Kemungkinan ini menjadi relevan ketika dibandingkan secara konseptual dengan arsitektur suci Bali, khususnya padmasana. Kajian mengenai padmasana menjelaskan bahwa bangunan tersebut memiliki struktur vertikal yang terdiri atas bagian kaki, badan, dan kepala, serta menggunakan berbagai motif flora, fauna, dan bentuk mitologis sebagai ornamen (Mercu & Wiyasa, 2007).
Dalam konteks Bali, ornamen pada bangunan suci tidak berdiri sebagai dekorasi yang sepenuhnya terpisah dari konsep keagamaan. Padmasana memiliki fungsi sebagai tempat pemujaan, sedangkan struktur dan ornamen yang diterapkan padanya memiliki dasar filosofis dan simbolis. Kajian mengenai ornamen pelinggih juga menunjukkan adanya pembagian motif menjadi motif pokok, figuran, dan isian, yang masing-masing memiliki posisi dalam membangun keseluruhan makna visual (ISI Denpasar, 2021).
Kemungkinan tersebut tidak berarti bahwa bentuk sentral pada fragmen selubung tiang Balumbung adalah pelinggih atau padmasana. Data yang tersedia belum memungkinkan kesimpulan tersebut. Akan tetapi, memasukkan hipotesis bentuk arsitektural penting dilakukan agar analisis tidak terjebak pada asumsi bahwa setiap bentuk menyerupai wadah pasti merupakan jambangan. Dengan demikian, bentuk sentral sebaiknya untuk sementara dibaca sebagai bentuk bertingkat yang belum teridentifikasi secara definitif, dengan dua kemungkinan interpretasi utama: elemen flora yang berasosiasi dengan jambangan atau representasi/fragmentasi elemen arsitektural.
Sikap analitis semacam ini penting dalam penelitian warisan budaya. Identifikasi bentuk harus dibedakan dari interpretasi makna. Bentuk yang “mirip” dengan suatu motif tidak secara bahwa objek tersebut memiliki nama, fungsi, dan makna yang sama.
Flora, Kesuburan, dan Makna Kehidupan
Jika bentuk sentral memang berkaitan dengan tumbuhan yang tumbuh dari sebuah pangkal atau wadah, maka komposisi tersebut memiliki hubungan dengan tradisi simbolik tumbuhan dalam ragam hias Jawa. Purnakalasa dan Purnaghata merupakan contoh bagaimana tumbuhan tidak sekadar ditampilkan sebagai objek dekoratif, tetapi ditempatkan dalam hubungan visual antara pangkal dan pertumbuhan. Literatur mengenai ragam hias candi menjelaskan bahwa teratai secara umum memiliki kedudukan simbolik yang kuat, termasuk keterkaitan dengan kemurnian dan kesucian dalam tradisi keagamaan tertentu (Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, 2015).
Lebih jauh, kajian mengenai sulur gelung padmamūla menghubungkan pertumbuhan sulur teratai dari pangkalnya dengan gagasan kosmogoni mengenai penciptaan dan pembentangan alam semesta (Nizam et al., 2018).
Dari sudut pandang interpretatif, rangkaian visual pada fragmen Blangghuan dapat dipahami sebagai gambaran mengenai kehidupan yang tumbuh dari suatu pangkal dan berkembang ke berbagai arah. Makna tersebut dapat dirumuskan secara hati-hati sebagai kemungkinan nilai simbolik berupa pertumbuhan, keberlanjutan, dan kehidupan. Namun, istilah seperti “kesuburan”, “kemakmuran”, atau “kesucian” sebaiknya digunakan hanya ketika bentuk yang bersangkutan dapat diidentifikasi lebih kuat sebagai motif yang memang memiliki asosiasi tersebut.
Dengan kata lain, penelitian ini tidak menempatkan satu makna sebagai kebenaran tunggal. Sebaliknya, makna dibaca secara bertingkat: pertama melalui bentuk visual, kedua melalui padanan dalam tradisi ragam hias Nusantara, dan ketiga melalui konteks lokal Sumberwaru.
Blangghuan dalam Lanskap Budaya Sumberwaru
Keberadaan fragmen selubung tiang menjadi semakin penting ketika ditempatkan dalam konteks geografis dan budaya Sumberwaru. Desa Sumberwaru merupakan salah satu desa penyangga Taman Nasional Baluran dan memiliki hubungan historis serta sosial-ekonomi dengan kawasan tersebut. Penelitian mengenai nilai manfaat Taman Nasional Baluran bagi masyarakat Sumberwaru menunjukkan adanya interaksi masyarakat dengan sumber daya alam dan lingkungan Baluran dalam kehidupan sosial dan budaya mereka (Lydiasari, 2016).
Pada saat yang sama, Blangghuan dan sekitarnya memiliki jejak temuan material yang menunjukkan potensi arkeologis. Laporan mengenai penelusuran sejarah lokal di Blangghuan mencatat ditemukannya mata uang gobog, fragmen keramik Cina, serta bata berukuran besar. Temuan tersebut kemudian oleh pegiat sejarah lokal dikaitkan dengan dugaan keberadaan kawasan kuno yang disebut sebagai Balumbung (Hairon, 2020).
Akan tetapi, dugaan tersebut tidak dapat digunakan secara otomatis untuk menetapkan bahwa fragmen selubung tiang berasal dari periode atau kerajaan tertentu. Penentuan kronologi dan afiliasi budaya memerlukan analisis arkeologis yang lebih lengkap, termasuk konteks temuan, material, teknik pengerjaan, stratigrafi, serta perbandingan dengan benda sejenis. Oleh karena itu, tulisan ini menempatkan konteks Blangghuan sebagai latar budaya dan geografis, bukan sebagai bukti langsung mengenai asal-usul historis fragmen.
Pendekatan tersebut sekaligus membuka kemungkinan bahwa identitas budaya Sumberwaru tidak harus dicari melalui gagasan bahwa setiap unsur visualnya “unik” dan tidak memiliki kesamaan dengan daerah lain. Ragam hias Jawa sendiri menunjukkan perjalanan bentuk yang panjang. Sulur gelung, misalnya, ditemukan pada berbagai candi dan bahkan mengalami keberlanjutan serta perubahan ketika memasuki periode Islam (Wicaksono & Nizam, 2019; Nizam et al., 2018).
Dengan demikian, apabila ragam hias Balumbung memiliki kesamaan dengan ragam hias Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, atau wilayah Nusantara lainnya, hal tersebut tidak serta-merta menghilangkan nilai lokalnya. Yang perlu ditelusuri adalah bagaimana unsur tersebut hadir dalam konfigurasi tertentu pada fragmen Balumbung dan bagaimana masyarakat Sumberwaru memaknai keberadaan warisan tersebut.
Ragam Hias sebagai Potensi Identitas Budaya Sumberwaru
Identitas budaya tidak selalu terbentuk dari sesuatu yang sepenuhnya baru. Identitas dapat muncul dari proses pewarisan, penerimaan, adaptasi, dan reinterpretasi unsur budaya. Dalam konteks ini, fragmen selubung tiang dapat menjadi salah satu sumber untuk membangun pengetahuan mengenai sejarah visual Sumberwaru.
Potensi tersebut terletak pada tiga aspek. Pertama, fragmen menyediakan bukti material mengenai keberadaan tradisi visual di Blangghuan dan sekitarnya. Kedua, ragam hias pada permukaannya menyediakan sumber visual yang dapat dianalisis melalui perbandingan dengan tradisi ornamen Nusantara. Ketiga, keberadaan fragmen dapat menjadi pintu masuk untuk menggali ingatan dan narasi lokal masyarakat Sumberwaru mengenai sejarah Blangghuan.
Dengan demikian, istilah “identitas budaya Sumberwaru” dalam penelitian ini tidak dimaksudkan sebagai klaim bahwa seluruh unsur ragam hias tersebut diciptakan secara eksklusif oleh masyarakat Sumberwaru. Identitas lebih tepat dipahami sebagai hasil dari proses pengenalan, pemaknaan, dan pengakuan terhadap warisan budaya yang berada dalam ruang hidup masyarakat Sumberwaru.
Pendekatan ini juga memberikan peluang untuk mengembangkan ragam hias tersebut sebagai identitas visual kontemporer. Namun, proses pengembangan tidak seharusnya mengubah hasil interpretasi menjadi klaim sejarah baru. Apabila motif tersebut nantinya digunakan dalam batik, kerajinan, souvenir, kemasan produk lokal, atau media promosi desa, penggunaannya sebaiknya disertai penjelasan mengenai sumber inspirasinya sebagai interpretasi terhadap fragmen Balumbung bukan sebagai bukti bahwa motif tersebut secara historis bernama “Ragam Hias Sumberwaru”.
PENUTUP
Eksplorasi terhadap fragmen selubung tiang Balumbung menunjukkan bahwa objek tersebut memiliki potensi penting sebagai sumber kajian identitas budaya Sumberwaru. Ragam hias pada permukaannya memperlihatkan komposisi flora, sulur, dan bentuk sentral yang disusun secara simetris. Unsur sulur memiliki keterkaitan dengan tradisi sulur gelung yang dikenal luas dalam ragam hias Jawa, sedangkan bentuk sentral membuka kemungkinan pembacaan sebagai unsur tumbuhan yang berasosiasi dengan jambangan maupun sebagai bentuk arsitektural bertingkat. Kedua kemungkinan tersebut belum dapat ditentukan secara definitif berdasarkan fragmen yang tersedia.
Kajian terhadap literatur menunjukkan bahwa sejumlah unsur visual pada fragmen memiliki padanan dalam tradisi ragam hias Nusantara. Purnakalasa dan Purnaghata, misalnya, memperlihatkan hubungan antara tumbuhan dan wadah, sementara sulur gelung teratai dalam tradisi Jawa memiliki sejarah panjang serta pada konteks tertentu berkaitan dengan konsep penciptaan dan pembentangan alam semesta (Nizam et al., 2018). Dengan demikian, ragam hias Balumbung tidak dapat langsung disebut sebagai motif yang sepenuhnya unik atau eksklusif Sumberwaru.
Meskipun demikian, kesamaan dengan tradisi daerah lain tidak menghilangkan potensi nilai lokal fragmen tersebut. Kekhasan Sumberwaru justru dapat ditemukan melalui kombinasi unsur visual, konteks keberadaan fragmen di Blangghuan dan swkitarnya, serta pemaknaan masyarakat terhadap warisan tersebut. Karena itu, penelitian lanjutan perlu melakukan dokumentasi fragmen secara lebih lengkap, analisis morfologi dan material, perbandingan dengan artefak Jawa Timur dan Nusantara, serta wawancara dengan masyarakat dan pihak yang memahami sejarah Blangghuan. Proses tersebut diperlukan untuk membedakan secara lebih jelas antara kemiripan visual, kesinambungan tradisi, dan karakter lokal.
Pada akhirnya, fragmen selubung tiang dapat diposisikan bukan hanya sebagai benda masa lalu, tetapi sebagai sumber pengetahuan yang menghubungkan sejarah, seni, dan identitas budaya Sumberwaru. Eksplorasi terhadap ragam hiasnya menjadi langkah awal untuk mendokumentasikan warisan visual Blangghuan sekaligus membuka ruang bagi masyarakat Sumberwaru untuk mengenali dan mengembangkan kembali warisan budayanya secara kritis dan berkelanjutan.(*)
DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman. (2015). Ragam hias candi-candi di Jawa: Motif dan maknanya. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Hairon, I. (2020, September 23). Kadipaten Balumbung Majapahit ada di Desa Sumberwaru Situbondo. Suara Indonesia.
Lydiasari, R. (2016). Nilai manfaat Taman Nasional Baluran bagi masyarakat Desa Sumberwaru Kabupaten Situbondo Jawa Timur [Skripsi, Institut Pertanian Bogor].
Mercu, M., & Wiyasa, I. N. (2007). Bangunan Padmasana: Kajian struktur dan penerapan motif hias tradisional Bali. Institut Seni Indonesia Denpasar.
Nizam, A. (2018). Ragam hias makam Sunan Drajat, ekspresi estetis Islam masa peralihan di Jawa Timur. Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Nizam, A., Nugraha, W., & Gustami, S. P. (2018). Eksistensi ragam hias sulur gelung teratai. Journal of Urban Society's Arts, 5(1), 37–48.
Nizam, A., & Wicaksono, A. (2018). Strategi perancangan: Ragam hias sulur gelung padmamūla pada produk kriya dan aplikasinya. Indonesia Kriya Festival.
__________________________________________________
Tim KKN-K Sumberwaru 2026:
Achmad Fauzi, Dina Octavia, Dini Ayu, Fara Dila Ayu Dinarta, Huuriyah Alfiatus Syarofah, Launa Ibrahim, Mohammad Abil Firmansyah, Muhammad Aditya, Nikma Ajril Amilin, Shafa Aulia Maharani, Sri Wahyuni, Tri Layli Fadhila




Posting Komentar