Identifikasi Kekunoan Situs Mellek Tahun 2012-2022


Oleh: Irwan Kurniadi *)


          Kecagarbudayaan di wilayah Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur khususnya dari masa klasik Hindu-Budha yang berupa situs dengan tinggalan arkeologis berupa struktur bata terbilang langka. Sedikitnya ada tiga situs yang memiliki potensi gugusan struktur berbahan bata merah era kerajaan yaitu: Situs Patukangan yang terletak di Desa Peleyan dan Desa Duwet, Kecamatan Panarukan. Kemudian Situs Bhanyakan, Desa Jangkar, Kecamatan Jangkar. Berikutnya, Situs Mellek, Dukuh Mellek, Dusun Krajan, Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih.  


          Salah satu situs di sektor timur Kabupaten Situbondo yang selalu diwarnai polemik karena selalu bersinggungan dengan aktivitas warga berupa penambangan pasir adalah Situs Mellek. Situs Mellek  yang terletak di Dukuh Mellek, Dusun Krajan,  Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur memiliki potensi sumber daya arkeologi di kedalaman lebih dari kisaran 2 meteran dari permukaan tanah saat ini. Masyarakat lokal pada awalnya mengidentifikasi kekunoan di lokasi tersebut pada keberadaan sebuah bukit kecil yang kerap disebut “Ghunong Berdhi”. Istilah ghunong dalam Bahasa Madura artinya bukit. Di bukit tersebut terdapat struktur bata berukuran berbeda dengan bata pada umumnya di masa kini, yakni berukuran lebih besar. Bata tersebut juga memiliki ketebalan yang bervariasi. Kondisi sekeliling bukit yang merupakan ladang tadah hujan tak jarang memunculkan temuan-temuan artefaktual yang diduga dari masa klasik Hindu-Budha. Sering ditemukan fragmen keramik dan gerabah termasuk fragmen arca, umpak, lumpang dan lain sebagainya. Mengenai fragmen keramik, dianalisis sebagai tinggalan dari era Dinasti Ming (abad ke-14) dengan corak warna putih-biru. Dinasti Ming dengan Majapahit (baca: klasik Hindu-Budha) merupakan dua peradaban yang memiliki interaksi dalam satu lini masa yang sama, sehingga tinggalan tersebut sebagai salah satu indikator yang mengabarkan kepada kita mengenai lini masa situs tersebut.


Kondisi Ghunong Berdhi tahun 1993. Tampak sisa struktur bata di rerimbunan tanaman palawija.

(Foto:Irwan Kurniadi)


              Kesaksian penulis pada tahun 1993 struktur yang tersisa sudah tidak tersusun rapi. Penulis sempat memotret kondisi kala itu, namun dokumentasi yang dapat diselamatkan hingga kini hanya berupa 2 buah foto, di antaranya kenampakan bukit dari jarak jauh. Kondisinya sudah berbeda jauh dengan saat tulisan ini disusun.  Volume bukit yang berupa tanah sudah berkurang karena perluasan lahan pertanian. Struktur bata yang berada di dalam gundukan pun dirombak warga bahkan dimanfaatkan untuk bahan baku membuat pagar dan kamar mandi.


              Pada tahun 2012 pasca menginisiasi pembentukan FPCB (Forum Penyelamat Cagar Budaya) , penulis kembali mengorek informasi mengenai temuan dalam aktivitas penambangan pasir di pedukuhan Mellek. Dalam aktivitas penambangan pasir di area yang memiliki volume pasir cukup besar akibat akumulasi banjir bandang selama berabad-abad dari luapan aliran Kalipait itu ‘menyimpan” tinggalan arkeologis masa klasik Hindu-Budha. Namun saat itu penulis  belum mendapatkan informasi yang detail, karena tidak berjumpa langsung dengan narasumber penemu artefak.


               Selanjutnya, pada Maret 2013, bersama pengurus forum, penulis mendata sejumlah artefaktual yang ditemukan seorang warga bernama Nihalil. Adapun artefak yang telah di data saat itu yakni: berupa fragmen kepala arca dengan karakter mengenakan mahkota berbahan tanah liat berikut fragmen badan, buyung berbahan tanah liat, sejumlah lumpang, mangkok beserta piring berbahan keramik dengan ciri warna putih biru serta beberapa artefak lainnya yang masih dimanfaatkan keluarga Nihalil.



Nihalil bersama ayahnya tahun 2013 bersama sejumlah artefak temuannya di Situs Mellek.

(Foto: M. Ridwan/FPCB)


           Selanjutnya Nihalil juga menunjukkan sebuah temuan struktur bata di pinggir Kalipait. Struktur temuannya pada tahun 2012 itu segera diuruk kembali dengan maksud agar tidak terjadi kerusakan karena pada umumnya masyarakat sekitar kerap mengambil bata-bata yang ditemukan  sebagai bahan baku membikin struktur baru untuk keperluan di rumah mereka. Ketika dia menggali kembali, ternyata sebagian struktur pada bagian ujung sebagian hilang karena tergerus banjir yang mengaliri Kalipait. Diduga, struktur tersebut adalah sudut dari sebuah tembok karena membujur dari barat-timur dan  selatan-utara.


              Hingga 4 tahun kemudian, BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Jatim  meregistrasi Situs Mellek pada bulan Agustus 2017 dengan nomor 62/STB/2017, tepatnya pada struktur  sudut tembok di bantaran Kalipait yang ditemukan Nihalil. Di lokasi ini, saat pertama kali menemukan struktur, Nihalil melakukan penggalian dengan metode lubang landak. Penggalian dilakukan dari arah samping setelah merayap di bantaran kali dengan tanah yang dipenuhi semak belukar.


              Kemudian BPCB Jatim menindaklanjuti pendataan dengan ekskavasi penyelamatan pada 23 Juni 2018, tepatnya pada struktur batur yang terdiri dari 1 struktur batur dan 2 struktur tembok. Bahkan tidak jauh dari struktur batur yang keletakannnya di sisi tenggara dari struktur sudut tembok di bantaran Kalipait, ditemukan pula oleh para pegiat cagar budaya yang mengawal aktivitas penambangan pasir di lokasi tersebut 3 struktur yang kondisinya tertutup semak belukar pasca ditinggalkan pengelola penambangan pasir.


            Dengan dikawal LSM Wirabhumi dan TPP-ODCB ( Tim Percepatan Penanganan Objek Diduga Cagar Budaya) yang juga diinisiasi penulis, resiko kerusakan struktur akibat penambangan pasir dapat diminimalisasi.


         Yang terkini, 20 Oktober 2022, BPCB Jatim kembali melakukan penanganan temuan, dikawal TCB- YMBS (Tim Cagar Budaya Museum Balumbung) dan Juru Pelihara Sukirno. Tim yang dipimpin Nurmala mendata titik kekunoan struktur sumur dan sekitarnya. Kemudian ke arah timur di sisi jalan desa, juga mendata temuan sejumlah struktur yang rusak karena dampak penambangan pasir yang tidak hati-hati. Tim merekam komposisi keletakan struktur yang diperkirakan sebagai permukiman kuno yang padat.



Tiga Versi Luasan Situs Mellek


Terdapat 3 versi luasan situs berdasarkan sebaran tinggalan arkeologis yang identik dengan asumsi lini masa yang sama.


1. Versi PICB Tahun 2019

                Berdasarkan hasil observasi PICB (Pusat Informasi Cagar Budaya) Balumbung pada November 2019 terdapat  8 blok kekunoan yaitu blok Batur, blok Kali,blok Ghunong Berdhi, blok Lessong, blok Toghu, blok Widoro Pasar, blok Lumpang dan blok Ghunong Lembu. Semua blok tersebut berada dalam radius kurang lebih 5 km dalam 2 desa yaitu Desa Sumberejo dan Desa Banyuputih.Kesimpulan tersebut mengidentifikasikan sebagai luasan Situs Mellek. Hasil observasi tersebut dimuat dalam buku Jejak Majapahit di Kabupaten Situbondo (Irwan Rakhday, 2019)


2. Versi TCB- YMBS Tahun 2021

             Observasi TCB-YMBS (Tim Cagar Budaya Yayasan Museum Balumbung Situbondo) di tahun 2021 sebagaimana yang termuat dalam  Mengenal Warisan Budaya Megalitik Kabupaten Situbondo  (Irwan Kurniadi, Agung Hariyanto. M.Andiy Syamsul Arifin, 2021) dan juga termuat dalam Mosaik Cagar Budaya Klasik Situbondo (Irwan Rakhday,2020)

Hasil observasi TCB-YMBS memberi tambahan 1 blok lagi  yang ditemukan pada tanggal 5 Agustus 2020, yaitu blok Sumur Jobong, sehingga jumlah keseluruhan blok kekunoan pada Situs Mellek ada 9. Adapun 9 blok kekunoan tersebut antara lain:

1. Blok Batur, terletak di Dusun Krajan, Desa Sumberejo.

2. Blok Kali, terletak di Dusun Krajan, Desa Sumberejo.

3. Blok Ghunong Berdhi di Dusun Krajan, Desa Sumberejo.

4. Blok Lessong, terletak di Dusun Lessong, Desa Sumberejo.

5. Blok Ghunong Lembu, terletak di Dusun Sukorejo, Desa Sumberejo.

6. Blok Toghu, terletak di Dusun Krajan, Desa Banyuputih.

7. Blok Sumur Jobong, terletak di Dusun Banyuputih, Desa Banyuputih.

8. Blok Widoro Pasar, terletak di Dusun Widoro Pasar, Desa Banyuputih.

9. Blok Lumpang, terletak di Dusun Widoro Pasar, Desa Banyuputih.


3. Versi TCB- YMBS Tahun 2022


       Berdasarkan persepsi bahwa rujukan penamaan situs di Mellek adalah sebuah pedukuhan, maka luasan Situs Mellek dicukupkan dalam area yang keletakan artefaktualnya dengan komposisi yang jaraknya tidak terlalu jauh atau rapat dalam pedukuhan tersebut. Semua benda, maupun struktur yang berada di Pedukuhan Mellek, Dusun Krajan,  Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih , Kabupaten Situbondo yang dapat dianalisis secara kontekstual berasal dari lapis budaya  masa Klasik Hindu-Budha. Pengerucutan luasan ini, pertimbangannya adalah proses pengkajian yang masih berlangsung. Juga terkait dengan pola identifikasi yang lebih spesifik keruangannya hingga ditentukan deliniasinya. Titik kekunoan sementara yang dapat difokuskan dalam area pedukuhan tersebut yakni dari sisi timur Kalipait hingga ke blok Ghunong Berdhi. Luasan secara akurat masih belum dapat ditentukan, namun kisaran 5-8 hektar. Bahkan mungkin hingga 10 hektar.


         Dari ke 3 versi itu, disimpulkan versi terakhir cukup dapat diterima karena lebih mengikat kerapatan sebaran temuan arkeologisnya yang berada dalam sebuah pedukuhan yaitu Dukuh Mellek.



       Hingga 20 Oktober 2022. Identifikasi titik kekunoan di dalam Situs Mellek/Dukuh Mellek diketahui:

1. Ghunong Berdhi, keletakannya di sebelah tenggara dari struktur batur. Di lokasi ini nyaris tidak lagi ditemukan bata dan artefaktual lainnya, kecuali fragmen gerabah dan keramik. 

2. Struktur sudut tembok yang keletakannya di bantaran Kalipait (versi PICB diberi nama blok Kali).

3. Struktur batur yang keletakannya di sebelah tenggara dari  struktur sudut tembok di bantaran Kalipait. (Versi PICB diberi nama blok Batur). Pada titik ini terdapat 2 tembok yang berkorelasi secara langsung dengan struktur batur. Temuan lepas di titik kekunoan ini berupa lumpang, umpak , gerabah serta balok batu andesit

4. Struktur sumur, keletakannya di sebelah barat daya dari struktur batur. Di titik kekunoan ini ditemukan lumpang, wadah berbahan tanah liat, serta di sebelah utara sumur  terdapat struktur tembok yang membujur barat-timur dengan panjang 4,9 meter. Beberapa meter sejajar dengan tembok tersebut ke arah barat juga terdapat struktur yang juga sejajar dengan struktur tembok temuan pada tahun 2014. Selain itu, di antara posisi struktur sumur dan struktur tembok terdapat kenampakan struktur yang belum dikupas secara total namun sementara diprediksi polanya persegi.



Sejumlah Temuan Lepas


             Temuan lepas yang terkini hingga 20 Oktober 2022 berupa sebuah lumpang batu, disimpan di Balai Desa Sumberejo. Kemudian sebuah piring Cina yang rumpil pada bagian sisinya. Juga fragmen keramik dengan stempel tulisan Cina pada sisi belakangnya, diamankan oleh Juru Pelihara Situs di Kecamatan Banyuputih, Sukirno. Serta sebuah tempayan yang ditemukan di sisi timur struktur tembok yang keletakannya di utara struktur sumur. Tempayan yang diketahui berisi tulang itu disimpan Juru Pelihara Situs Mellek, Sanawi.


              Beberapa jenis temuan lepas di bawah ini tercatat merupakan penemuan sebelum tahun 2022. Benda-benda ini disimpan di Museum Balumbung dan Rumah Sejarah Balumbung.


1. Lumpang Batu 1 Mellek

          Lumpang berbahan andesit ditemukan warga bernama Suharto beberapa meter ke arah barat daya struktur batur di kedalaman lebih dari 2 meter. Lumpang ini berbentuk tak beraturan. Sisi paling panjang adalah 38 cm dan sisi paling pendek 36 cm. Tinggi ketika ditegakkan 32 cm. Kedalaman lubang 5,5 cm dengan diameter 20 cm.

             Sejumlah Lumpang yang lain umumnya berbentuk lingkaran, ada juga yang berbentuk oval. Variasi bentuk tersebut dimungkinkan mengikuti alur batu yang sudah terbentuk secara alami. 


2. Umpak Berukir

          Setidaknya ada 9 umpak yang berukuran berbeda. Umpak yang berdimensi kecil tingginya 20 cm, lebar bawah 15 cm, lebar atas 10 cm.Umpak ini ditemukan kira-kira lebih dari 50 meter arah timur struktur batur. Terdapat ukiran pada ke empat sisinya yaitu menggambarkan hewan banteng dan dewa Hindu. Umpak yang lain ada yang tingginya 30 cm lebar bawah 22 cm dan lebar atas 13,5 cm. Namun umpak-umpak lainnya tidak berukir alias polos. 


2. Pipisan

         Sejumlah pipisan ditemukan di sekitar  Ghunong Berdhi, struktur batur dan sekitar struktur sudut di bantaran kali. Salah satu Pipisan berdimensi panjang atas 30 cm, lebar atas 7,5 cm, dan Panjang bawah 18cm, dengan lebar bawah 7 cm dan tinggi 8,5cm. 

 

3. Bakalan Arca

      Bakalan arca ini memiliki panjang atas 24 cm, bawah 44 cm,lebar 36 cm,  dan ketebalan 9 cm. Diduga artefak ini akan dibuat menjadi arca Ganesha. Hal itu terlihat dari pahatan yang berbentuk menyerupai belalai.



 6. Kendi Susu 

       Kendi susu berbahan tanah liat yang memiliki cucuk berbentuk payudara sangat populer di era Majapahit. Falsafahnya ialah bahwa air yang keluar dari kendi ini khasiatnya menghidupi, seperti susu ibu. Kendi tipe ini kemungkinan digunakan pada upacara, karena bentuk corot susu dianggap tidak praktis untuk pemakaian sehari-hari. Di Bali kendi seperti ini diletakkan di tempat-tempat keramat seperti di Gunung Kawi, Gua Gajah dan Yeh Pulu.(kemdikbud.go.id) Di Situs Mellek, kendi susu ditemukan dalam keadaan sudah pecah. Setelah disambungkan, diameter bawah 10,5 cm dan panjang cucuk di samping kendi sepanjang 17 cm.


          Tentu semua potensi kecagarbudayaan di Situs Mellek tidak hanya cukup dilakukan pendataan tanpa upaya pelestarian yang kongkrit. Mengingat, keterancaman pelestarian situs selalu terbuka dengan aktivitas warga yang masih awam tentang nilai penting cagar budaya berdasarkan regulasi yang ada. Upaya kuat mengedukasi masyarakat serta kajian arkeologis yang lebih intensif dengan tahapan-tahapan yang berjenjang diharapkan menjadi pintu pembuka jalan untuk perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan Situs Mellek bagi kesejahteraan masyarakat ke depan.(*)


*)Penulis adalah Ketua TCB-YMBS ( Tim cagar Budaya Yayasan Museum Balumbung Situbondo), anggota TACB (Tim Ahli Cagar Budaya) Kabupaten Situbondo.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama