Jaladwara, Pancuran Air Masa Klasik


Oleh: Irwan Kurniadi


Salah satu artefaktual dari era klasik yang cukup menarik perhatian dalam komponen 
struktur atau bangunan berupa Jaladwara. Jaladwara merupakan pancuran air yang biasa menempel di dinding-dinding candi atau situs petirtaan. Jaladwara difungsikan sebagai komponen untuk saluran air pada struktur bangunan candi.

Jaladwara biasanya berbentuk binatang yang menyerupai mirip ikan, mulutnya menganga dan terdapat lubang. Jaladwara beragam karakternya. Ada yang bibir atasnya melingkar ke atas seperti belalai gajah yang diangkat. Pada bagian belakang terdapat ekor panjang yang berfungsi sebagai saluran air. Beberapa dalam wujud burung atau binatang lainnya. Jaladwara ditempatkan di sudut – sudut bangunan candi dan berfungsi untuk menyalurkan air saat hujan.

Salah satu koleksi Museum Balumbung di Asembagus, Situbondo adalah Jaladwara berbahan andesit porus sedang. Artefak ini berasal dari Situs Rengganis. Dibawa oleh H. Hasan Mustofa Kades Pategalan, Kecamatan Jatibanteng, Kabupaten Situbondo pada masa orde baru. Hal itu berdasarkan keterangan H. Tirto, warga Desa Pategalan.

Dimensi artefak tersebut adalah: tinggi 37 cm, lebar 20 cm dan panjang 30 cm.
Kondisi artefak terdapat bekas patahan pada sisi belakangnya. Sejak 4 April 2020, artefak ini menjadi koleksi Museum Balumbung. (*)


Jaladwara tampak samping

Jaladwara tampak depan.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama